DINAS KETAHANAN PANGAN DAN PERTANIAN KABUPATEN SERUYAN

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN DENGAN REFUGIA

Refugia umumnya hanya dikenal sebagai tanaman berbunga di sekitar lahan pertanaman budidaya. Beberapa jenis bunga seperti bunga kertas, bunga matahari, bunga kenikir, bunga kembang sepatu, atau bunga wijen sering ditanam di pematang ataupun di pinggiran areal pertanaman sayuran maupun buah. Selain memperindah pemandangan, ternyata refugia merupakan salah satu pengendalian OPT secara ramah lingkungan atau  penanganan Dampak Perubahan Iklim (DPI).

Petani hortikultura sebagian besar telah menggunaan tanaman refugia sebagai salah satu cara pengendalian OPT yang ramah lingkungan. Ramah lingkungan yang dimaksud adalah meminimalisir penggunaan pestisida kimia dan memilih cara-cara yang disediakan alam. Dewasa ini masyarakat kian sadar untuk mengonsumsi pangan yang aman dan sehat. Jika terdapat organisme pengganggu tanaman,  tidak perlu buru-buru dibasmi dengan bahan kimia, namun dikendalikan dengan bahan-bahan alami sehingga menghasilkan produk pertanian termasuk hortikultura  yang aman dikonsumsi,”

Refugia dapat menjadi tempat berlindung dan hidup bagi musuh alami dari jenis predator dan parasitoid maupun menjadi sumber makanan bagi serangga penyerbuk atau penghasil madu seperti lebah. Contohnya, serangga dari Ordo Hymenoptera Famili Scolitidae sebagai parasitoid bagi hama ulat bawang (Spodoptera exigua ) atau hama dari Ordo Lepidoptera. Dengan demikian berarti bahwa refugia dapat berperan dalam kelestarian musuh alami, menjaga keseimbangan agroekosistem dan membantu pengelolaan hama bagi tanaman termasuk hortikultura. Untuk menjaga optimalisasi peran refugia, maka petani hortikultura juga harus mendukung penggunaan pestisida kimia sintetis secara benar dan bijaksana.

Keberadaan refugia juga membantu menjaga kelembaban tanah di sekitarnya. Rimbunnya refugia, dapat memberikan penguapan tanah akibat cahaya matahari dapat dikurangi. Dengan demikian, secara tidak langsung dapat membantu mitigasi risiko kekeringan di areal pertanaman dalam skala mikro.

Untuk itu peran penyuluh dalam melakukan sosialisasi kepada petani untuk menanam refugia pada komoditas hortikultura, dimana manfaatnya sudah dapat dibuktikan. Oleh karena itu, diharapkan bantuan para petugas Pengendali OPT (POPT) di lapangan untuk dapat mengawal petani menanam refugia.

Saat ini cukup banyak kelompok tani sayuran dan buah yang menanam refugia. Penanaman refugia cukup membantu mengurangi serangan OPT di lahan pertanaman sayuran dan buah. Refugia sangat bermanfaat bagi petani karena tanaman ini untuk singgah musuh alami hama dan dampaknya sangat nyata, sehingga dampaknya penggunaan pestisida menjadi sangat berkurang. Langkah ini menunjukkan adanya optimisme bahwa manfaat refugia semakin terasa. Dengan mengorbankan sedikit lahan untuk ditanami refugia, diharapkan serangan OPT dan penggunaan pestisida kimia sintetik benar-benar dapat diturunkan.

Disamping itu, tanaman refugia  diharapkan bisa menyehatkan lahan, tanaman dan konsumen yang ikut mengonsumsi tanaman serta bermanfaat untuk ke depannya. Keuntungan lain dari penggunaan refugia di lahan pertanaman budidaya hortikultura, diantaranya mudah untuk didapatkan, harga bibit murah, mudah dibudidayakan dan mudah berkembang biak.

Pengendalian OPT secara ramah lingkungan harus terus dilakukan, sebab ini merupakan kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan untuk meningkatkan daya saing terutama pada sektor pertanian di Indonesia.

Susi Deliana Siregar, Penyuluh Pertanian Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian

Sumber: Disarikan dari berbagai sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published.