DINAS KETAHANAN PANGAN DAN PERTANIAN KABUPATEN SERUYAN

Budidaya Terong Jepang Nashubi

Berbagai upaya dilakukan petani dalam berinovasi budidaya di bidang pertanian untuk dapat menambah penghasilan keluarga. Seorang petani asal Desa Jiken Kecamatan Jiken Kabupaten Blora, Jawa Tengah giat mengajak rekan dan anggota petani di desanya  untuk bertanam terong Jepang karena permintaan akan komoditas ekspor ini cukup besar dan harganya cukup menarik.

Terung dari Jepang ini sering disebut dengan nama Nashubi. Terung ini memiliki perbedaan dengan terung lokal yang umumnya lebih sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Perbedaan ini terlihat jelas dari bentuknya yang lebih bulat menyerupai telur dan warna kulit buah terung jepang ini cenderung berwarna ungu tua kehitaman.  Kandungan antioksidan dan vitamin B didalamnya bermanfaat untuk mencegah beragam penyakit.  Terung nashubi adalah jenis sayuran yang bisa diolah menjadi tempura dan campuran salad ini begitu populer di Jepang.  Adalah Sutarmo, petani asal Desa Jiken, Kecamatan Jiken Kabupaten Blora yang begitu bersemangat mengembangkan budidaya terong Jepang sebagai tanaman sela, usai bertanam padi ataupun jagung.  Berawal dari coba-coba, pada akhirnya bertanam terong Jepang menjadi pilihannya untuk  menambah penghasilan keluarga.

Saya tertarik menanam terong Jepang karena ditawari teman yang merupakan penghubung pabrik pengolah terong Jepang  yang berlokasi di Semarang.  Setelah bertemu dan bernegosiasi dengan pihak penghubung kemudian saya melakukan kontrak atau bermitra dengan perusahaan tersebut.  Menurut teman saya terong yang saya hasilkan setelah  melalui proses lebih lanjut akan dikirim ke Jepang karena digunakan untuk bahan baku olahan makanan dan kosmetik.  Setiap bulan, menurut Tarmo, pabrik pengolahan di Semarang tersebut membutuhkan bahan baku berupa terong Jepang segar  sekitar 100 ton. Sejauh ini kebutuhan tersebut belum dapat terpenuhi  karena kurangnya petani yang berminat mengembangkan budidaya terong Jepang.  “Kalau saya dan petani di Blora berminat maka benih akan disediakan oleh pihak pabrik dan mereka pasti menampung hasil panen kami dengan harga Rp 1.500 sd Rp. 2000,- per kg,” ungkap ketua kelompok tani yang pernah mendapat apresiasi sebagai Penyuluh Pertanian Swadaya Berprestasi tingkat Kabupaten Blora.

Kepastian menampung hasil dengan harga yang cenderung tetap membuat Ketua Kelompok Tani (Poktan)  Lestari Widodo Makmur itu tertantang untuk mencoba ikut membudidayakan terong Nashubi Jepang.  Setelah melalui proses pra budidaya yang dipimpin langsung tenaga teknis dari pihak pabrik maka mulailah di tahun 2019,  ia dan beberapa anggota Poktannya menjalani kegiatan usaha tani terong Jepang.  Saat ini lahan terong Jepang saya mencapai luasan 0,5  hektar. Sejauh ini setiap sekali panen  saya bisa mendapat sampai  2 ton terong dengan keuntungan jutaan rupiah,” tutur pria usia 52 tahun itu.

Leave a Comment

Your email address will not be published.